DukkanKu.Com– Secara bahasa syuruq artinya terbit. Syaraqat as-Syamsu [شَرَقَتِ الشَّمْسُ] artinya matahari terbit. Shalat Syuruq dikenal juga dengan shalat isyraq atau shalat thulu’. Shalat Syuruq berarti shalat yang dikerjakan beberapa saat setelah matahari terbit.

Yang pertama kali menamakan shalat ini dengan shalat isyraq adalah shahabat mulia ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Dalam sebuah riwayat dari ‘Abdullah bin Al Harits  disebutkan,

أن ابن عباس كان لا يصلي الضحى حتى أدخلناه على أم هانئ فقلت لها : أخبري ابن عباس بما أخبرتنا به ، فقالت أم هانئ : « دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم في بيتي فصلى صلاة الضحى ثمان ركعات » فخرج ابن عباس ، وهو يقول : « لقد قرأت ما بين اللوحين فما عرفت صلاة الإشراق إلا الساعة » ( يسبحن بالعشي والإشراق) ، ثم قال ابن عباس : « هذه صلاة الإشراق »

Ibnu ‘Abbas tidak pernah melaksanakan shalat dhuha, lalu kami mengajaknya menemui Ummu Hani’ dan berkata kepadanya, “Kabarkanlah kepada Ibnu ‘Abbas dengan berita yang engkau kabarkan kepada kami!” Lantas Ummu Hani berkata. “Rasulullah masuk kerumahku kemudian shalat dhuha 8 rakaat!”. (mendengar hadits ini) Ibnu ‘Abbas langsung keluar seraya berkata, “Sungguh aku telah membaca antara dua sisi mushaf, tidaklah aku tahu tentang shalat isyraq kecuali (waktunya) hanya sebentar saja! (kemudian membaca ayat) “Mereka pun bertasbih di petang dan waktu isyroq (waktu pagi).” (QS. Shad : 8)” Kemudian Ibnu ‘Abbas lanjut berkata, “Inilah shalat isyraq”. (HR. Al Hakim, Hasan Lighoirihi)

Adapun secara ishtilah, Shalat Isyraq adalah shalat yang dikerjakan sesaat setelah matahari terbit dengan tata cara dan syarat tertentu.

Para ulama sebenarnya berselisih pendapat tentang apakah shalat isyraq itu sama dengan shalat dhuha ataukah berbeda? Perbedaan tersebut sebenarnya bermuara pada dasar dari shalat isyraq ini, apakah hadits tersebut hasan sehingga bisa dijadikan hujjah untuk beramal, atau dloif dan hanya menjadi syahid (penguat) bagi hadits-hadits tentang shalat dhuha?.

Para ulama ada yang berpendapat bahwa shalat isyraq adalah shalat dhuha yang dikerjakan di awal waktu, seperti hadits Ibnu ‘Abbas di atas, juga keumuman hadits-hadits yang menerangkan tentang shalat dhuha. Namun ada juga yang menjadikannya sebagai shalat sunnah yang berdiri sendiri dan bukan termasuk shalat dhuha. Dalam sebuah hadits dari anas bin malik disebutkan,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ (رواه الترمذي هذا حديث حسن غريب)

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang shalat pagi hari (subuh) secara berjamaah, kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah SWT hingga terbitnya matahari, kemudian ia shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala mengerjakan haji dan umrah.” Rasulullah SAW bersabda, “Sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Turmudzi, beliau berkata bahwa hadits ini hasan gharib)

Hadits ini hanya diiriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi saja, dan terdapat perowi yang bernama Abu Zhilal Hilal bin Abi Hilal seorang tabi’in kecil yang diperbincangkan para ahli hadits. Dalam hadits yang lain dari Abu Umamah disebutkan,

مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ

Barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna.” (HR. Thobroni. Syaikh Al Albani dalam Shahih Targhib (469) mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirihi (shahih karena ada riwayat penguat lainnya).)

Dalam hadits kedua ini dengan jelas disebutkan bahwa yang dimaksud dengan dua rakaat tersebut adalah shalat dhuha.

Disini shameel tidak akan membahas mana pendapat yang lebih kuat ya, apakah termasuk shalat dhuha ataukah bukan. Toh kalaupun termasuk shalat dhuha, kita masih bisa mengerjakan shalat dhuha lagi di pertengahan waktu dhuha atau menjelang akhir waktu dhuha (menjelang tengah siang ketika matahari tepat di tengah) dan tidak ada ruginya kita shalat dhuha lebih dari dua rakaat. Disini shameel hanya akan membahas bagaimana cara kita meraih pahala dari shalat isyraq itu sendiri yang luar biasa besarnya.

Seorang ulama mulia Syaikh Mukhtar Asy Syinqithi telah menjelaskan kepada kita sebagai kesimpulan dari hadits tentang shalat isyraq di atas, bahwa kita bisa mendapatkan pahalanya yang besar jika kita memenuhi syarat-syaratnya;

Pertama, Shalat subuh secara berjamaah.

Sehingga tidak tercakup di dalamnya orang yang shalat sendirian. Zhahir kalimat jamaah di hadis ini, mencakup jamaah di masjid, jamaah di perjalanan, atau di rumah bagi yang tidak wajib jamaah di masjid karena udzur (wanita, orang yang sakit, dll).

Kedua, duduk berdzikir.

Jika duduk tertidur, atau ngantuk maka tidak mendapatkan fadlilah ini. Termasuk berdzikir adalah membaca Alquran, beristighfar, membaca buku-buku agama, memberikan nasihat, diskusi masalah agama, atau amar ma’ruf nahi mungkar.

Ketiga, duduk di tempat shalatnya sampai terbit matahari.

Tidak boleh pindah dari tempat shalatnya, jika dia pindah untuk mengambil mushaf Alquran atau untuk kepentingan lainnya maka tidak mendapatkan keutamaan ini. Karena keutamaan (untuk amalan ini) sangat besar, pahala haji dan umrah “sempurna..sempurna..sempurna” sedangkan maksud (duduk di tempat shalatnya di sini) adalah dalam rangka Ar Ribath (menjaga ikatan satu amal dengan amal yang lain), dan dalam riwayat yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kemudian duduk di tempat shalatnya.” Kalimat ini menunjukkan bahwa dia tidak boleh meninggalkan tempat shalatnya. Dan sekali lagi, untuk mendapatkan fadlilah yang besar ini, orang harus memberikan banyak perhatian dan usaha yang keras, sehingga seorang hamba harus memaksakan dirinya untuk sebisa mungkin menyesuaikan amal ini sebagaimana teks hadis.

Keempat, shalat dua rakaat.

Shalat ini dikenal dengan shalat isyraq. Shalat ini dikerjakan setelah terbitnya matahari setinggi tombak.

(Syarh Zaadul Mustaqni’ oleh Syaikh Syinqithi III/68)

Untuk syarat nomor tiga (duduk ditempat shalat), Ibnu Rajab Al Hanbali memiliki pendapat yang lain, yaitu yang dimaksud duduk ditempat shalat adalah masjid tempat ia shalat, sehingga boleh bergerak/bergeser dari tempat shalatnya untuk keperluan yang lain. Beliau berkata,

“…dan diketahui bersama bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah duduk di tempat yang beliau gunakan untuk shalat. Karena setelah shalat (wajib), beliau berpaling dan menghadapkan wajahnya kepada para sahabat radhiallahu’anhum.”

(Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibn Rajab V/28)

Terlepas dari semua ikhtilaf tentang shalat isyraq ini, lebih baik kita menyibukkan diri dengan thalabul ilmi dan  ibadah, diantaranya shalat syuruq ini. Jangan jadikan ikhtilaf furu’iyyah ini sebagai alat untuk mejudge dan berselisih sampai ummat terpecah belah.

Wallahu a’lam bish shawab.

Toko Buku | Toko Buku Online | Beli Buku Online | Buku Online | Jual Buku Online | Toko Buku Online Murah | Beli Buku | Jual Buku |Toko Buku Online Terpercaya | Toko Buku Online Terlengkap | Jual Beli Buku Online | Buku Online Murah | Belanja Buku Online | Jual Beli Buku | Jual Buku Online Murah | Baca Buku Online | Situs Buku Online | Cari Buku Online | Beli Buku Online Terlengkap | Harga Buku | Buku Islam | Toko Buku Islam | Toko Kitab | Situs Jual Beli Online Termurah | Toko Buku Islam Terpercaya | Jual Buku Islam | Toko Buku Islam Online | Buku Fiqih | Toko Buku di Sukabumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X