aurat perempuan muslimah

DukkanKu.Com – Untuk menjawab apakah bawah dagu perempuan termasuk aurat atau tidak, sebenarnya kembali kepada apa sajakah batasan aurat bagi seorang wanita?. Bagi teman-teman yang mengambil pendapat bahwa hukum menutup wajah dan telapak tangan adalah wajib, tentu sudah tidak ragu lagi bahwa hukum bawah dagu atau dagu perempuan termasuk aurat. Tapi bagi teman-teman yang mengambil pendapat bahwa wajah dan telapak tangan tidak termasuk aurat, maka ini termasuk pembahasan tersendiri. Nah pada postingan kali ini, saya mencoba untuk sedikit menjelaskan hukum bawah dagu perempuan termasuk aurat atau tidak? Apakah bawah dagu perempuan boleh terlihat ketika shalat? Apakah bawah dagu perempuan boleh terlihat diluar shalat? Dan persoalan lainnya, karena sebagaimana diketahui, masalah fiqih bukanlah masalah remeh. Dari sinilah satu permasalahan bisa berimbas kepada hukum-hukum yang lainnya. Maka mengetahui ilmunya beserta pendapat para ulama tentangnya akan membuat kita lebih bijak dalam menghadapi perbedaan furu’iyyah disekitar kita.

Manakah yang termasuk bagian dari wajah?

Dalam ilmu fiqih dan ushul fiqih definisi terhadap suatu hal sangat penting, karena dari definisi ini mempengaruhi pada kesimpulan hukum yang akan diambil. Dalam hal ini, diantara para ulama yang mendefinisikan wajah dengan sangat jelas adalah Al Imam An Nawawi dan Asy Syirazi dari kalangan syafi’iyyah.

Imam an-Nawawi Asy Syafi’i dalam kitab Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab (I/364) menyebutkan bahwa,

والوجه عند العرب ما حصلت به المواجهة

“Wajah menurut orang ‘Arab adalah anggota badan yang digunakan untuk saling berhadap-hadapan.”

Dalam buku yang sama, Imam Asy-Syairazi — ulama Syafi’iyah — (wafat 476 H) menjelaskan batasan wajah secara lebih rinci,

والوجه ما بين منابت شعر الرأس إلى الذقن ومنتهى اللحيين طولاً، ومن الأذن إلى الأذن عرضاً

“Batasan wajah adalah wilayah antara tumbuhnya rambut kepala sampai ke dagu, ujung dua rahang. Batas membentang antara telinga sampai telinga satunya.”

Ketika menjelaskan keterangan Asy-Syairazi di atas, Imam An-Nawawi berkata,

هذا الذي ذكره المصنف في حد الوجه هو الصواب الذي عليه الأصحاب ونص عليه الشافعي رحمه الله في الأم

“Batasan wajah seperti yang disebutkan penulis, itulah batasan yang benar, yang diikuti oleh para ulama Syafi’iyah, dan ditegaskan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitab Al-Umm.” (Al-Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, I/371)

Sebagian ulama dari kalangan Malikiyyah juga memberikan keterangan yang sama, di antaranya apa yang disampaikan oleh Al-Haththab dalam Mawahibul Jalil (II/89),

أَنَّ حَدَّ الْوَجْهِ طُولًا مِنْ مَنَابِتِ شَعْرِ الرَّأْسِ الْمُعْتَادِ إلَى مُنْتَهَى الذَّقَنِ فِي حَقِّ مَنْ لَيْسَتْ لَهُ لِحْيَةٌ وَأَمَّا مَنْ لَهُ لِحْيَةٌ فَيَغْسِلُ ظَاهِرَهَا وَلَوْ طَالَتْ. وَالذَّقَنُ مَجْمَعُ اللَّحْيَيْنِ

“Bahwa batas wajah bagi orang yang tidak memiliki jenggot adalah tempat tumbuhnya rambut normal bagian depan hingga ujung dagu. Adapun bagi orang yang memiliki jenggot, maka dia harus mencuci bagian permukaan jenggotnya, meskipun panjang. Dzaqan (dagu) adalah daerah bertemuanya dua tulang rahang.”

Dari madzhab Hanafiy, Imam Al Kasani berkata dalam Bada’i Ash Shana’i,

“Batasan wajah tidak disebutkan dalam riwayat secara zahir, hanya disebutkan dalam kajian ushul bahwa wajah adalah dari awal rambut hingga bawah dagu dan antara kedua telinga. Ini adalah batasan yang benar, karena merupakan batasan yang dapat ditangkap secara bahasa, karena wajah adalah sesuatu yang berada di hadapan manusia, atau apa saja yang biasanya berada di hadapannya menurut bahasa, dan muwajahah (berhadap-hadapan) biasanya terkait dengan batasan ini.”

Hanya terdapat sedikit perbedaan saja dalam beberapa bagian yang dianggap termasuk wajah atau bukan, seperti yang diterangkan oleh Syaikh Wahbah Az Zuhaily dalam kitabnya yang terkenal Al Fiqh Al Islamiy wa Adillatuhu, beliau berkata,

“Batas lebar muka adalah bagian di antara dua anak telinga. Menurut pendapat madzhab Hanafiyah dan Syafi’i, bagian kosong yang terdapat di antara ujung pipi dan telinga termasuk ke dalam anggota muka. Akan tetapi, ulama madzhab Maliki dan Hambali berpendapat bahwa ia termasuk ke dalam anggota kepala. Termasuk bagian wajah menurut pendapat ulama madzhab Hambali, seperti yang terdapat dalam kitab Al Mughni, adalah bagian yang disebut dengan at tahdzif, yaitu bagian tepi dahi yang ditumbuhi rambut-rambut yang tipis yang terletak di antara ujung pipi dan dahi. Ini disebabkan tempat tersebut berada di bagian wajah. Akan tetapi, An Nawawi mengatakan bahwa menurut yang telah diakui jumhur ulama madzhab Syafi’i, maudhi’ at tahdzif (tempat tumbuh bulu) adalah bagian dari kepala karena rambutnya berhubungan dengan rambut kepala. Penulis kitab Kasysyaful Qina’dari madzhab Hambali mengatakan bahwa maudhi’ at tahdzif tidak termasuk ke dalam anggota wajah, melainkan ia termasuk ke dalam anggota kepala.”

Kemudian, setelah menjelaskan mengenai bagian-bagian di luar wajah yang harus dilebihkan dibasuh saat membasuh wajah ketika berwudlu, beliau mengatakan, 

“Wajib membasuh sebagian kecil bagian kepala, leher, bagian bawah tulang rahang, dan dua telinga.”

Memang tidak ada dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang secara qath’iy dan shariih menjelaskan batasan wajah, tetapi penetapan definisi wajah seperti di atas bisa dilihat dari dua sisi yang dijadikan sebagai hujjah syar’iyyah:

  1. Dari sisi kesepakatan/konsensus (ijma’) para ulama. Definisi wajah ini semua ulama dari semua madzhab sepakat, dan ijmak mereka merupakan hujjah (landasan dalil).
  2. Dari sisi bahasa Arab yang dengan bahasa tersebut Allah menurunkan Al Quran, dan dengan bahasa tersebut pula kita mendapatkan ajaran. Orang-orang Arab terutama para ahli bahasa (nuhat) memberikan definisi wajah yang sama dengan para ulama fiqih. Dan dalam ilmu ushul, bahasa arab merupakan bagian tak terpisahkan untuk memahami dan mengambil kesimpulan hukum.

Ringkasnya batasan wajah ialah dari bagian dahi yang biasanya ditumbuhi rambut hingga ke ujung dagu. Dan dari cuping telinga kanan hingga cuping telinga kiri. Cuping artinya tulang rawan kecil yang menonjol seperti bisul di tengah telinga. Pendapat ini dipegang pula oleh Al Imam Al Qurtubhi (malikiyyah), Al Imam Ibnu Katsir (Syafi’iyyah) ulama mu’ashirin seperti Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, Syaikh Prof. DR. Wahbah Az Zuhailiy, Syaikh Abdul Aziz Muhammad As Salman dan ulama mu’tabar lainnya.

Baca juga mau selamat dari tipu daya setan?

Jika bawah dagu tidak tertutup apakah membatalkan shalat?

Menutup bagian bawah dagu wajib menurut madzhab syafi’i, sehingga jika terlihat dalam shalat maka shalatnya batal/tidak sah. Namun menurut ulama hanafiyah dan malikiyah jika bawah dagu saat sholat terbuka itu bukan merupakan perkara yang membatalkan sholat alias shalatnya tetap sah.

Sebagian ulama syafi’iyyah berkata,

“Adapun menurut ulama-ulama yang lain, seperti tokoh-tokoh madzhab Hanafiy dan Malikiy: Sesungguhnya daerah tubuh di bawah janggut dan semisalnya tidak di anggap membatalkan shalat jika terbuka, seperti halnya dapat kita ketahui pendapat-pendapat itu dari kitab-kitab karya mereka. Karenanya, jika hal itu (terlihatnya dagu wanita saat shalat) terjadi di kalangan wanita-wanita awam yang belum mengerti dengan tatacara madzhab Syafi’i, maka shalatnya tetap sah karena orang awam sulit berpedoman dengan satu madzhab saja. Bahkan sekalipun hal itu terjadi pada para wanita yang menguasai aturan madzhab Syafi’i, maka shalatnya tetap dianggap sah juga, karena para ulama madzhab itu berada dalam naungan hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah berkenan membalas mereka dengan kebaikan atas jasa-jasanya terhadap kita.”

Apakah wajib ditutup diluar shalat juga?

Dari paparan di atas, kita bisa melihat jumhur ‘ulama dari semua madzhab menyebutkan bahwa bagian bawah dagu termasuk aurat, karena bukan bagian dari wajah. Sedangkan aurat itu sendiri wajib ditutup berdasarkan keumuman perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ

Jagalah (tutuplah) auratmu kecuali pada istri atau budak yang engkau miliki.” (HR. Abu Daud no. 4017 dan Tirmidzi no. 2794. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Ibnu Qasim Al Ghozzi berkata,

“Aurat itu wajib ditutupi dari pandangan manusia ketika berada bukan hanya di dalam shalat, namun juga di luar shalat. Juga aurat tersebut ditutup ketika bersendirian kecuali jika dalam keadaan mandi.” (Fathul Qorib, 1: 115).

Kesimpulan:

  1. Berdasarkan pendapat yang rajih dan paling kuat, bagian bawah dagu bukan termasuk wajah dan termasuk aurat yang wajib ditutup baik dalam shalat maupun diluar shalat.
  2. Sangat ditekankan untuk menutup bagian bawah dagu ketika shalat, terutama ketika shalat dibelakang ajnabi (orang asing yang bukan mahram) atau ditempat umum. Namun jika bagian bawah dagu tersebut terlihat tanpa disengaja, maka shalatnya tetap sah karena sulitnya tempat tersebut untuk ditutup. Hal ini ditegaskan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, ketika membahas batas wajah,

وبهذا كله يتبين أن أسفل الذقن ليس من الوجه، ولا يجوزُ للمرأة كشفه في الصلاة، لأنه ليس مما تحصلُ به المواجهة

“Berdasarkan keterangan di atas menjadi jelas bahwa bawah dagu bukan termasuk wajah. Tidak boleh bagi wanita untuk membukanya (secara sengaja) dalam shalat. Karena bagian ini, bukan anggota badan yang digunakan untuk berhadap-hadapan.” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 121534)

Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi:

Al Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’, Muhammad bin Muhammad Al Khotib, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyyah.

Al Fiqhul Islami Wa Adillatuhu, Syaikh Wahbah Az Zuahily, Dar Al Fikr.

Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab lisy Syairozi, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan kedua, tahun 1427 H.

Fathul Qorib (Al Qoul Al Mukhtar), Muhammad bin Qasim Al Ghozzi, terbitan Maktabah Al Ma’arif, cetakan pertama, tahun 1432 H.

Minhajuth Tholibin, Yahya bin Syarf An Nawawi, tahqiq dan ta’liq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al Haddad, terbitan Darul Basyair Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1426 H.

Mughni Al Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaaj, Muhammad bin Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan keempata, tahun 1431 H.