DukkanKu.Com – Alhamdulillah sebentar lagi kita melaksanakan salah satu ibadah tahunan, shalat idul fithri. Tapi pada tahun ini ada yang istimewa, hari iedul fitri bertepatan dengan hari jum’at!!. Emang kenaapaa? Karena bagi sebagian madzhab ada keringanan untuk tidak shalat jum’at…. Lho kok bisa? Baru tahu ya? Kalo baru tahu, yuk kita baca artikelnya… Biasa, motto kita adalah berilmu sebelum beramal, biar amal tak sia-sia karena mengerjakan sesuatu yang tidak disyariatkan atau justru kita merasa paling tahu dan benar sendiri, lantas kepada orang yang tidak sepakat dengan kita, kita kasar dan menghardik mereka… Semakin banyak ilmu kita, semakin kita sadar betapa rahmat dalam dien ini begitu luas. Udah, yuk kita baca ringkasan dari beberapa madzhab berikut ini tentang permasalahan Apakah Wajib Shalat Jum’at Ketika Bertepatan Dengan Iedul Fitri/Iedul Adlha?. Semoga bermanfaat!!

Untuk masalah ini para ulama terbagi kepada dua pendapat.

Pertama, Jumhur ‘ulama (fuqaha’) berpendapat orang yang sudah melaksanakan shalat ‘ied, masih tetap berkewajiban melaksanakan shalat Jum’at. Kecuali ‘ulama Syafi’iyah yang menggugurkan kewajiban ini bagi orang yang nomaden (al bawadiy). Mereka berhujjah dengan dalil berikut:

  1. Keumuman firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al Jumu’ah: 9)

  1. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

“Barangsiapa meninggalkan tiga shalat Jum’at karena meremehkannya, maka Allah akan mengunci pintu hatinya.”

(HR. Abu Daud no. 1052, dari Abul Ja’di Adh Dhomri. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Ancaman keras seperti ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu wajib.

  1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ

Shalat Jum’at merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat golongan: (1) budak, (2) wanita, (3) anak kecil, dan (4) orang yang sakit.”

(HR. Abu Daud no. 1067, dari Thariq bin Syihab. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

  1. Karena shalat Jum’at dan shalat ‘ied adalah dua shalat yang sama-sama wajib (sebagian ulama berpendapat bahwa shalat ‘ied itu wajib), maka shalat Jum’at dan shalat ‘ied tidak bisa menggugurkan satu sama lainnya sebagaimana shalat Zhuhur dan shalat ‘Ied.
  2. Keringanan meninggalkan shalat Jum’at bagi yang telah melaksanakan shalat ‘ied adalah khusus untuk ahlul bawadiy (orang yang nomaden seperti suku Badui). Dalilnya adalah,

قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِى فَلْيَنْتَظِرْ ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ

Abu ‘Ubaid berkata, “Aku pernah menyaksikan (shalat ied) bersama ‘Utsman bin ‘Affan dan hari tersebut adalah hari Jum’at. Kemudian beliau shalat ‘ied sebelum khutbah. Lalu beliau berkhutbah dan berkata, “Wahai sekalian manusia!! Sesungguhnya ini adalah hari di mana terkumpul dua hari raya (dua hari ‘ied;iedul fithri dan shala jum’at). Siapa saja dari penduduk nomaden (tidak menetap) ingin menunggu shalat Jum’at, maka silakan. Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan.” (HR. Bukhari no. 5572)

(Al Mudawwanah I/153, Al Majmu’ IV/320, Tabyiinul Haqaaiq I/224, At Tamhiid X/272, Al Awsath IV/291, Al Muhalla III/303)

Kedua, diperbolehkan bagi orang yang telah menghadiri shalat ‘ied untuk tidak menghadiri shalat Jum’at. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at dan atau orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut serta hadir.

Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini diriwayatkan pula dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair. Dalil dari pendapat ini adalah:

  1. Nabi SAW. Bersabda,

قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا مجمعون

“Telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari raya, bagi siapa yang mau (shalat ied) itu mencukupinya dari shalat jum’at (tidak usah mengerjakan), tapi kami akan shalat jum’at.”

(HR. Abu Dawud no. 1073, Ibnu Majah I/13, Al Hakim II/288 dari Abi Hurairah)

  1. Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,

أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ؟ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ؟ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ

“Apakah engkau sewaktu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengalami shalat dua ‘ied (hari Idul Fitri/Idul Adha bertepatan dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” Jawab Zaid, “Iya”. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” Jawab Zaid lagi, “Beliau melaksanakan shalat ‘ied, kemudian memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at, Seraya bersabda, ‘Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan!’.”

(HR. Abu Daud no. 1070, An-Nasai no. 1592, dan Ibnu Majah no. 1310. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Asy Syaukani dalam As-Sailul Jaror (I/304) mengatakan bahwa hadits ini memiliki syahid (riwayat penguat). Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ (IV/492) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid. ‘Abdul Haq Asy Syubaili dalam Al Ahkam Ash Shugro (321) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. ‘Ali Al Madini dalam Al Istidzkar (II/373) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid. Syaikh Al Albani dalam Al Ajwibah An Nafi’ah (49) mengatakan bahwa hadits ini shahih. (Dinukil dari http://dorar.net)

Intinya, hadits di atas bisa digunakan sebagai hujjah atau dalil.

  1. Diriwayatkan dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah At Tabi’iy, ia berkata,

صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِى يَوْمِ عِيدٍ فِى يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ أَصَابَ السُّنَّةَ.

“Ibnu Az-Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az-Zubair tidak keluar untuk mengimami kami, akhirnya kami shalat sendiri-sendiri. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thaif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan peristiwa tersebut kepada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia (Ibnu Az Zubair) sesuai sunnah”

(HR. Abu Daud no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Jika sahabat mengatakan ashobas sunnah (menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’, dihukumi sampai (muttashil) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az-Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az-Zubair. ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat ‘ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.

  1. Pendapat ‘ulama syafi’iyyah (pengikut madzhab syafi’i) yang memberi keringanan tidak shalat jum’at khusus untuk orang yang nomaden seperti orang badui, adalah pendapat yang terlalu memaksakan dalil. Karena ‘Umar bin Khaththab dan Ibnu Az Zubair bukanlah orang nomaden, namun mereka mengambil keringanan tidak shalat Jum’at. Begitu pula kesimpulan dari ucapan ‘Utsman, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silahkan dan telah kuizinkan.” Khithab ucapan ini adalah penduduk Madinah dan yang hadir pada waktu shalat ‘ied tersebut.
(Al Mughni II/365, Al Inshaf II/403, Kasysyaful Qanna’ II/41, Majmu’ul Fatawa XXIV/211. Lihat juga Shahih Fiqh As-Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim I/522-524, Daar At-Taufiqiyyah Litturats)
Istinbath Hukum :
  • Meski pendapat kedua berhujjah dengan 2 (dua) hadits dlaif, tapi hadits tersebut terdapat banyak syahid (saksi hadits lain yang menguatkan) juga riwayat pendukung dari para sahabat, dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat ini, justru diantara para khulafa’ dan generasi setelahnya banyak yang mengamalkan pendapat kedua ini. Bahkan Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa pendapat ini ‘ashoobas sunnah (ia Ibnu Az Zubair telah sesuai sunnah/ajaran Nabi). Ini bisa dihukumi marfu’ (sampai kepada Nabi) sehingga pendapat kedua dinilai lebih tepat.
  • Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak ikut shalat ‘ied bisa ikut serta. Dalil dari hal ini adalah anjuran untuk membaca surat Al A’laa serta Al Ghosiyah pada shalat ‘ied dan shalat Jum’at jika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied dan dalam shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An-Nu’man bin Basyir mengatakan ,”Begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat itu pada kedua shalat tersebut.” (HR. Muslim no. 878)

Wallahu a’lam bish shawab

Toko Buku | Toko Buku Online | Beli Buku Online | Buku Online | Jual Buku Online | Toko Buku Online Murah | Beli Buku | Jual Buku |Toko Buku Online Terpercaya | Toko Buku Online Terlengkap | Jual Beli Buku Online | Buku Online Murah | Belanja Buku Online | Jual Beli Buku | Jual Buku Online Murah | Baca Buku Online | Situs Buku Online | Cari Buku Online | Beli Buku Online Terlengkap | Harga Buku | Buku Islam | Toko Buku Islam | Toko Kitab | Situs Jual Beli Online Termurah | Toko Buku Islam Terpercaya | Jual Buku Islam | Toko Buku Islam Online | Buku Fiqih | Toko Buku di Sukabumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *