Dukkanku.com – Tapi tunggu dulu sobat dukkanku, sebelum kita berbicara tips mendapatkan malam lailatul qadar alangkah baiknya kita berkenalan dulu dengan lailatul qadar itu sendiri, supaya bisa lebih memaknai dan lebih menghadirkan semangat untuk menggapai keutamaan lailatul qadar serta membuat kita lebih fokus dalam amalan-amalan yang bisa menyampaikan kita pada kemuliaan malam lailatul qadar ini. Karena barang siapa yang terhalang dari mendapatkan lailatul qadar, seolah dia luput dari semua kebaikan. Maka seyogyanya bagi seorang muslim untuk selalu rakus dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan keutamaan lailatul qadar ini. Ok, langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah ini ya…

Dinamakan lailatul qadar, karena pada malam itu Allah menurunkan para malaikat untuk mengatur urusan yang telah ditetapkan dan diatur oleh-Nya pada tahun tersebut. Juga bermakna malam kemuliaan karena memang malam ini memiliki keistimewaan yang berbeda dengan malam-malam lainnya.

Keutamaan Lailatul Qadar

Yaps, sobat dukkanku telah banyak ulama dan asatidzah yang membahas keutamaan lailatul qadar ini. Tapi tidak ada salahnya kita tuliskan ulang supaya menjadi pengikat ilmu kan. Lalu apa saja keutamaannya?

1. Allah menurunkan Al Quran pada malam ini. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ القَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ القَدْرِ لَيْلَةُ القَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ المــَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّي مَطْلَعِ الفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan ruh (jibril) dengan izin Rabb-nya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr [97]: 1-5)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Quran) pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan [44]: 3)

2. Allah memuliakan lailatul qadar dan secara tegas menunjukkan kemuliaan tersebut dengan menyitirnya dalam sebuah kalimat tanya melalui firman-Nya:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ القَدْرِ

“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” (QS. Al Qadar [97]: 2)

3. Lailatul qadar adalah sebuah malam yang kebaikannya dilipat gandakan. Ibadah yang dilakukan pada lailatul qadar itu lebih baik daripada ibadah yang dikerjakan dalam seribu bulan yang pada bulan-bulan tersebut tidak terdapat lailatul qadar. Lebih dari 1000 bulan ya sob bukan sama dengan 1000 bulan sebagaimana banyak disalah fahami oleh kebanyakan manusia.

4. Para malaikat turun pada lailatul qadar. Untuk apa mereka turun ke langit dunia? Sebagian ulama ada yang mengatakan para malaikat turun dengan membawa rahmat, barakah dan ketenangan (sakinah). Adapula yang berpendapat mereka turun dengan membawa berbagai urusan yang telah ditetapkan dan diatur oleh Allah pada tahun tersebut (qadla’ dan qadar tahunan). Sebagaimana firman-Nya:

فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَ.

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (yaitu) urusan dari sisi Kami. Sungguh Kamilah yang mengutus (para rasul).” (QS. Ad Dukhan [44]: 4-5)

5. Rasa aman dan damai akan dirasakan pada malam tersebut oleh orang-orang yang beriman.

6. Diampuninya segala kesalahan. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Dan barang siapa yang bangun (beribadah) pada lailatul qadar karena iman dan mengharap (pahala), niscaya diampuni segala dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari No. 2014 dan Muslim No. 759 – shahih)

Lalu Lailatul qadar itu kapan ya?

Yang jelas, lailatul qadar hanya ada pada bulan yang mulia pula, bulan ramadhan. Sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Alaa:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ

“Bulan ramadhan adalah bulan yang diturunkan di dalamnya Al Quran….” (QS. Al Baqarah [2]: 185)

Adapun tanggal berapa tepatnya, disini para ulama berbeda pandangan. Bahkan sampai lebih dari 40 pendapat. Tetapi kebanyakan ulama berpendapat bahwa lailatul qadar terdapat pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

… فَابْتَغُوْهَا فِي العُشْرِ الْأَوَاخِرِ.

“… Maka carilah lailatul qadar itu pada sepuluh malam terakhir (bulan ramadhan).”  (HR. Bukhari No. 2018 dan Muslim No. 1167 dari Abu Sa’id Al Khudri – shahih)

Dan sabdanya:

تَحَرُّوا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ مِنْ العُشْرِ الأَوَاخِرِ

“Carilah lailatul qadar itu pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir (ramadhan).” (HR. Bukhari No. 2017 – shahih)

Karenanya ada yang berpendapat bahwa lailatul qadar ada pada tanggal 21, adapula yang berpendapat pada tanggal 23, 25 dan seterusnya. Tetapi kebanyakan dari mereka yang berpendapat bahwa lailatul qadar terdapat pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir ramadhan itu bahwa lailatul qadar terdapat pada tanggal 27 Ramadhan berdasarkan atsar kebanyakan para shahabat, bahkan shahabat Ubay bin Ka’ab bersumpah atas hal itu. (HR. Muslim no. 762 dan At Tirmidzi no. 3351)

Tetapi penulis sepakat dengan Abu Malik Kamal bin As Sayyid Saalim pengarang kitab shahih fiqh sunnah bahwa lailatul qadar berpindah-pindah setiap tahunnya. Tidak mesti tanggal 27 ramadhan, bisa pula pada malam ganjil lainnya selama masuk dalam hitungan 10 malam terakhir di bulan ramadhan. Pendapat ini berdasarkan keumuman hadits-hadits di atas tadi yang tidak menyebutkan tanggal tertentu, dan dikuatkan dengan hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendapatkan lailatul qadar pada malam ke 21 ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Sa’id Al Khudry,

إِنِّي أُرِيْتُ لَيْلَةَ القَدْرِ ثُمَّ أَنْسَيْتُهَا. فَالْتَمِسُوْهَا فِي العُشْرِ الأَوَاخِرِ فِي الوِتْرِ، وَإِنِّي رَأَيْتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِيْنٍ.

“Sungguh lailatul qadar telah diperlihatkan kepadaku tapi aku melupakannya. Maka carilah ia pada sepuluh malam terakhir di malam yang ganjil. Sungguh aku melihat bahwa aku bersujud pada air dan tanah.”

Abu Sa’id Al Khudry berkata, “Pada malam kedua puluh satu turun hujan dan masjid bocor tepat pada tempat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku melihat Nabi ketika selesai dari shalat subuhnya wajahnya basah karena tanah dan air.” (HR. Bukhari no. 2018 dan Muslim no. 1167 – shahih)

Kok disembunyikan sih lailatul qadarnya? Tidak langsung saja ditentukan tanggalnya. Alasannya apa?

Sebenarnya tidak ada dalil dari Al Quran dan As Sunnah yang menyebutkan secara tegas alasan lailatul qadar tidak disebutkan tanggalnya atau ditetapkan pada malam tertentu. Tapi kita bisa memahami sedikit dari hikmah yang terkandung dalam hal kenapa lailatul qadar dirahasiakan. Tentu saja alasan yang paling kuat dan pas adalah bahwa itu hak preogratif Allah Jalla Jalaaluh Sang Pemilik aturan, kita hanya tinggal tunduk patuh dan menjalankan perintah-Nya serta berlomba untuk mendapatkan yang terbaik di sisi-Nya. Tapi alasan logis lainnya adalah dengan disembunyikannya lailatul qadar dari kita, tentu kita akan lebih bersungguh-sungguh pada setiap malam di bulan ramadhan demi mendapatkan kebaikan yang berlipat ini dengan harapan bahwa pada malam tersebutlah lailatul qadar turun, sehingga ibadah kita menjadi maksimal. Berbeda halnya jika sudah ditentukan tanggalnya, tentu akan ada sifat peremehan pada malam-malam lainnya, dengan anggapan cukup dengan ibadah pada lailatul qadar saja. Jika demikian, tujuan mencapai derajat taqwa sebagai buah dari ramadhan tidak terpenuhi. Hal ini selaras dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنِّي خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ فَتَلَاحيَ فُلَانٌ وَفُلَانٌ فَرُفِعَتْ، وَعَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالتَمِسُوْهَا…..ز

“Sungguh aku keluar untuk memberitahukan kalian tentang lailatul qadar. Tapi fulan dan fulan malah saling mencela, sehingga dia (kabar tentang lailatul qadar) diangkat (lupa), semoga itu baik untuk kalian. Maka carilah……..” (HR. Bukhari no. 2023 – shahih)

Ok kalau lailatul qadar disembunyikan, terus ciri-cirinya apa saja biar mudah mengenalinya?

Memang lailatul qadar punya ciri yang bisa dikenali untuk mempermudah prediksi kita mendapatkan malam itu atau tidak. Tapi perlu juga kita berhati-hati karena di masyarakat kita banyak terdapat khurafat dan keyakinan-keyakinan rusak lainnya yang berkaitan dengan ciri lailatul qadar ini. Apa yang penulis bawakan disini in syaa Allah adalah ciri lailatul qadar yang bisa dipertanggung jawabkan dalilnya. Apa saja itu?

1. Cuaca dan angin pada malam itu tenang, tidak kencang, tidak dingin juga tidak panas. Pada pagi harinya matahari bersinar dengan sinar kemerahan yang lembut tidak terlalu menyilaukan mata. Berdasarkan hadits Nabi,

لَيْلَةُ القَدْرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ لَاحَارَّةً وَلَاباَرِدَةً تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةَ حَمْرَاءَ

“Lailatul qadar adalah malam yang tenang dan bersih udaranya, tidak panas juga tidak dingin. Matahari pada pagi harinya bersinar dengan sinar merah yang redup (tidak terlalu menyilaukan).” (HR. Ath Thayalisi no. 349, Ibnu Khuzaimah III/231, dan Al Bazzar no. 1034 dari Ibnu Abbas – hasan)

Juga sabdanya,

صَبِيْحَةُ لَيْلَةَ القَدْرِ تَطْلُعُ الشَّمْسُ لَاشِعَاعَ لَهَا كَأَنَّهَا طَسْتٌ حَتَّي تَرْتَفِعُ

“Pagi hari dari lailatul qadar matahari terbit tanpa cahaya silaunya, seperti baskom (bulat) sampai meninggi.” (HR. Muslim no. 1174 dari Ubay bin Ka’ab – shahih)

2. Ketenangan dan kedamaian yang turun beserta para malaikat. Bisa dirasakan oleh seseorang dengan hadirnya ketenangan hati, lapangnya jiwa, dan ibadah menjadi terasa nikmat pada malam tersebut yang tidak bisa dirasakan pada selainnya.

3. Sebagian orang bisa melihatnya dalam mimpi, sebagaimana yang pernah terjadi pada sebagian shahabat Nabi.

Dan terakhir, tips mendapatkan lailatul qadar. Apa saja tipsnya?

1. Memperbanyak qiyamullail. Terutama pada malam-malam ganjil, ingat jumlah qiyamullail tidak mesti 11 rakaat, bisa 13, 15, 17, 21, 23 bahkan 25. Yang penting bukan banyaknya rakaat, tapi kekhusyu’an dan thuma’ninah dalam qiyamullailnya. Penuhi semua rukunnya, bahkan syarath-nya tidak usah tergesa demi mendapatkan jumlah rakaat yang banyak tapi shalatnya tidak sah. Ibunda ‘Aisyah pernah bercerita tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

كَانَ النَّبِيُّ إِذَا دَخَلَ العَشْرَ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.

“Adalah Nabi jika sudah masuk sepuluh hari terakhir bulan ramadhan Beliau mengencangkan sarungnya (tidak berhubungan suami istri), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024, Muslim no. 1174 – shahih)

2. Untuk sejenak bagi yang sudah menikah harap menjauhi istri (tidak berhubungan suami istri untuk fokus beribadah), berdasarkan hadits di atas.

3. Memperbanyak doa, Sobat bisa berdoa dengan doa apa saja sesuai dengan kebutuhan, tapi yang lebih utama adalah doa-doa yang ma’tsur (diriwayatkan) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Seperti doa:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Yaa Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pengampunan, maka maafkanlah aku.” (HR. At Tirmidzi no. 3760 dan Ibnu Majah 3850 – shahih)

4. Memperbanyak ibadah lainnya yang bisa dengan mudah kita lakukan, seperti qiraatul qur’an, membaca buku, infaq, dan lain sebagainya.

Bagaimana sobat mudah kan tipsnya? Memang semudah itu kok, yang berat adalah menghadirkan tekad yang kuat untuk bisa menghidupkan malam ramadhan, terutama malam ganjil di sepuluh hari terakhir ramadhan. Semoga kita termasuk orang yang bisa mendapatkan keutamaan lailatul qadar.

Wallahu a’lam bish shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *