DukkanKu.com– Sahabat, kita sekarang sudah masuk musim penghujan. Dan berhubung Indonesia terletak di wilayah tropis, durasi hujan lebih lama dan intensitasnya lebih sering, sehingga kadang membuat kita kesulitan ketika sudah masuk waktu shalat tapi hujan masih deras. Nah guys, agama kita ini mudah lho! Makanya dalam Islam, ada sebuah hukum yang memperbolehkan menggabung dua shalat yang  berdekatan karena hujan besar yang terjadi. Yups, itulah yang dimaksud dengan shalat jamak karena hujan. Sobat dukkan, seperti biasa kita harus mengedepankan ilmu dalam beragama dan bukan hanya taqlid buta. Karenanya yuk kita pelajari dulu seluk beluk shalat jama’ karena turunnya hujan ini!

Baca juga cara lepas dari godaan dan tipu daya setan.

Apa itu jamak?

Jama’ adalah menggabungkan salah satu diantara dua sholat yang berdekatan waktunya, baik disatukan dipermulaan waktu/shalat pertama (jama’ taqdim) maupun diakhir waktu/shalat kedua (jama’ ta’khir). Yang bisa disatukan hanya shalat yang waktunya sama; seperti shalat dzuhur dengan ashar (shalat nahariyah/shalat siang) atau maghrib dengan isya’ (shalat lailiyyah/shalat waktu malam), maka tidak boleh jama’ ashar dengan maghrib atau shubuh dengan dzuhur karena kedua waktu tersebut berbeda.

Kapan boleh jama’?

Secara umum ada 3 sebab seseorang boleh menjama’ shalat, yaitu:

  1. Safar (bepergian dengan jarak tertentu),
  2. Hujan
  3. Suatu kebutuhan yang mengharuskan jama’ tapi bukan termasuk safar/hujan yang memunculkan adanya masyaqqah (kesulitan) seperti tanah berlumpur, tiupan angin dingin yang kencang sehingga menimbulkan madharat dan masyaqqah, dll.

Apa dalil yang menunjukkan bolehnya jama’ karena hujan?

Bolehnya menjama’ shalat karena hujan berlandaskan beberapa riwayat  yang bersumber dari shahabat, tabi’in maupun tabi’ut tabi’in.

1.  Hisam bin Urwah mengatakan,

أَنَّ أَبَاهُ عُرْوَةَ وَسَعِيْدَ بْنَ المُسَيَّبَ وَأَبَا بَكْرٍ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنَ الحَارِثِ بْنَ هِشَام بْنَ المُغِيْرَةَ المَخْزُوْمِي كَانُوْا يَجْمَعُوْنَ بَيْنَ المَغْرِبِ وَالعِشَاءِ فِي اللَّيْلَةِ المَطِيْرَةِ إِذَا جَمَعُوْا بَيْنَ الصَّلاَتَيْنِ وَلاَ يُنْكِرُوْنَ ذَلِكَ

Sesungguhnya ayahnya (Urwah), Sa’id bin Al Musayyib, dan Abu Bakar bin Abdur Rahman bin Al Harits bin Hisyam bin Al Mughiroh Al Makhzumi biasa menjama’ shalat Maghrib dan Isya’ pada malam yang hujan apabila imam menjama’nya. Dan mereka tidak mengingkari hal tersebut.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 3: 169). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Lihat Irwa’ul Gholil no. 583)

2.  Dari Musa bin ‘Uqbah, dia menceritakan bahwasanya dahulu Umar bin Abdul ‘Aziz pernah menjamak antara sholat Maghrib dengan sholat ‘Isyak apabila turun hujan, dan sesungguhnya Sa’id ibnul Musayyib (tabi’in), Urwah bin Zubeir, Abu Bakar bin Abdurrohman serta para pemuka (ahli ilmu) pada zaman itu senantiasa sholat bersama mereka dan tidak mengingkari perbuatan tersebut.

3. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallohu ‘anhuma, beliau menceritakan,

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِى غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ

“Bahwa dahulu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah menjamak antara sholat Zhuhur dengan ‘Ashar dan antara sholat Maghrib dengan ‘Isyak di kota Madinah dalam keadaan bukan karena situasi takut dan bukan karena hujan. Maka Ibnu ‘Abbas pun ditanya ‘Untuk apa beliau (Nabi) melakukan hal itu ?’ maka Ibnu ‘Abbas menjawab: ‘Beliau bermaksud agar tidak memberatkan ummatnya.’ “(HR. Muslim No. 705 dan lain-lain)

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

Atsar semisal ini menunjukkan bahwa jamak ketika turun hujan adalah telah diamalkan sejak dulu di Madinah pada masa sahabat dan tabi’in. Dan tidak dinukil bahwa seorang sahabat dan tabi’in mengingkarinya. Dan bisa dipahami bahwa sebenarnya hal itu sudah mutawatir (dinukil dengan riwayat yang banyak).” (Lihat Majmu’ Al Fatawa, XXIV/83).

4.       Dari Nafi’ maula Ibnu Umar berkata,”Abdullah bin Umar bila para umara menjama’ antara maghrib dan isya’ karena hujan, beliau ikut menjama’ bersama mereka”. (HR. Ibnu Abi Syaibah).

Apa hukum menjama’ shalat karena hujan?

Hukumnya sunnah apabila hujan tersebut deras, dan tidak diperkenankan jika hujan ringan (gerimis). Karena dalam hal tersebut terdapat rukhshah (keringanan) yang mana Allah menyukai jika keringanan tersebut dilaksanakan oleh hamba-Nya, juga karena adanya nilai ittiba’ (mengikuti/meneladani) sunnah Nabi karena Beliau juga pernah melaksanakan jama’ karena hujan ini.

Dalam Al Mughni disebutkan,

”Hujan yang membolehkan seseorang menjama’ shalat adalah hujan yang bisa membuat pakaian basah kuyup dan mendapatkan kesulitan jika harus berjalan dalam kondisi hujan semacam itu. Adapun hujan yang rintik-rintik dan tidak begitu deras, maka tidak boleh untuk menjama’ shalat ketika itu.” Lihat Al Mughni wasy Syarhul Kabiir, II/117.

Syaikh Prof. Dr. Sa’ad bin Turkiy Al Khotslan ditanya, “Ketika turun hujan, kami lihat banyak perbedaan pendapat dalam memandang bolehnya menjamak shalat Maghrib dan ‘Isya’ di berbagai masjid. Apa yang bisa menjadi patokan untuk menjamak dua shalat ketika turun hujan?”

Beliau hafizhohullah menjawab,

“Tidaklah disyari’atkan untuk menjamak shalat Zhuhur-Ashar dan Maghrib-‘Isya’ kecuali jika ada kesulitan. Karena pernah terjadi hujan, namun tidak menjamak shalat. Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diadakan istisqo’ (minta hujan) ketika khutbah Jum’at, lantas turunlah hujan selama seminggu. Namun tidak didapati bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamak shalat selama seminggu penuh. Tanda kesulitan yang membolehkan menjamak adalah turunnya hujan sampai membuat orang-orang sedikit beraktivitas, sedikitnya mobil yang bergerak di jalan-jalan, sampai-sampai sebagian toko menutup dagangannya dan semacam itu.” [Sumber fatwa: http://www.saad-alkthlan.com/text-814]

Syaikh Ibnu Baz dalam fatwanya pernah mengatakan ketika menjawab sebuah pertanyaan,

“Yang terpenting adalah apabila di sana terdapat sesuatu yang menyulitkan untuk ke masjid baik hujan deras maupun jalan yang sulit dilewati karena adanya lumpur dan air (setelah turun hujan), maka boleh untuk menjama’ shalat dan ini tidaklah mengapa. Namun jika tidak dijama’, maka bagi mereka terdapat udzur untuk shalat di rumah-rumah mereka karena hujan dan adanya lumpur ketika berjalan.”

Jama’ taqdim atau ta’khir?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan,

“Yang lebih utama adalah melakukannya dengan jama’ taqdim (di waktu sholat yang pertama); karena yang demikian itu lebih mencerminkan sikap lemah lembut kepada manusia. Oleh sebab itulah anda akan jumpai bahwa orang-orang semuanya pada saat hujan turun tidak melakukan jama’ kecuali dengan cara jama’ taqdim.”

Kalau hujan berhenti di tengah pelaksanaan shalat?

Awal pelaksanaan sholat kedua yang dijamak (misal ‘isya yang ditaqdim ke maghrib) disyaratkan keadaan masih hujan. Adapun apabila sholat kedua tersebut (misal shalat isya’ tadi) dilakukan kemudian di tengah pelaksanaan tiba-tiba hujan berhenti maka tidaklah disyaratkan harus hujan terus menerus sampai selesainya sholat yang kedua (‘Isya’). Dengan kata lain shalatnya tetap sah, jama’nya juga sah. Demikian pula berlaku untuk sebab yang lainnya. Misalnya apabila ada seseorang yang karena sakitnya terpaksa harus menjama’ shalat. Kemudian tiba-tiba di tengah shalatnya, sakit yang dideritanya menjadi hilang maka jama’ yang dilakukannya tidak menjadi batal; karena keberadaan udzur secara terus menerus hingga selesainya (shalat) kedua tidaklah dipersyaratkan.

Kalau posisi dirumah lalu hujan deras, bolehkah jama’?

Sobat dukkan, rukhshah (keringanan) jama’ karena hujan hanya diperuntukkan bagi mereka yang shalat berjamaah di mesjid. Adapun bagi mereka yang shalat dirumah, baik muslim maupun muslimah tidak diperkenankan menjama’ shalat karena sudah mendapat rukhshah yang lain, yaitu bolehnya shalat dirumah (tidak berjama’ah di masjid bagi muslim) karena hujan tersebut. Kecuali bagi mereka yang sakit dan menuntut harus jama’, diperbolehkan untuk menjama’ karena sakitnya tersebut, bukan karena hujannya.

Berapa Jarak Antara Dua Sholat Yang Dijama’?

Termasuk syarat dilakukannya shalat jama’ adalah tidak boleh ada jeda waktu panjang yang memisahkan antara keduanya, sehingga harus dikerjakan secara berturut-turut. Meskipun dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh tidak mempersyaratkan demikian, dan pendapat beliau cukup kuat. Namun yang lebih hati-hati adalah tidak menjama’ apabila tidak bersambung/berurutan langsung.

Baca juga apa itu shalat syuruq?

Jeda waktu yang diperbolehkan (menurut yang mempersyaratkannya) adalah hanya sekadar ukuran lamanya iqomah dikumandangkan (karena tidak ada lagi adzan sebelum sholat kedua) atau seukuran waktu yang dibutuhkan untuk wudhu ringan. Seandainya ada orang yang sesudah shalat Maghrib misalnya, justeru mengerjakan shalat sunnah rowatib (ba’diyah) maka tidak ada lagi shalat jama’ yang bisa dilakukannya karena shalat sunnah rawatib menjadi pemisah antara kedua shalat yang akan dijama’ tadi.

Apakah genap atau boleh di qashar?

Yang diperbolehkan dalam jama’ karena hujan adalah penggabungan dua shalat tadi, adapun jumlah rakaat tiap shalat semuanya sempurna, tidak ada yang diqashar (diringkas).

wallahu a’lam bish shawab.

Referensi:

  1. Al Wajiz fii Fiqhis Sunnati wal Kitabil ‘Aziiz, Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi, Daar Ibnu Rajab, Cetakan I.
  2. Asy Syarhul Mumti’’alaa Zaadil Mustaqni’ karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, IV/547.
  3. Majmu’ Al Fatawa, XXIV/83
  4. Al Mughni wasy Syarhul Kabiir, II/117.
  5. http://www.saad-alkthlan.com/text-814

Toko Buku | Toko Buku Online | Beli Buku Online | Buku Online | Jual Buku Online | Toko Buku Online Murah | Beli Buku | Jual Buku |Toko Buku Online Terpercaya | Toko Buku Online Terlengkap | Jual Beli Buku Online | Buku Online Murah | Belanja Buku Online | Jual Beli Buku | Jual Buku Online Murah | Baca Buku Online | Situs Buku Online | Cari Buku Online | Beli Buku Online Terlengkap | Harga Buku | Buku Islam | Toko Buku Islam | Toko Kitab | Situs Jual Beli Online Termurah | Toko Buku Islam Terpercaya | Jual Buku Islam | Toko Buku Islam Online | Buku Fiqih | Toko Buku di Sukabumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *