Sale!

Manhaj Haraki 1

Rp130.000,00 Rp110.000,00

Dukkanku.com – Buku ini hadir sebagai jawaban, memaparkan studi yang spesifik mengenai kajian tentang pergerakan dalam sirah nabawiyah, serta menyajikan fakta dan analisa yang tajam yang mempertautkan berbagai peristiwa di masa Nabi dengan kejadian mutakhir yang dihadapi oleh Harakah Islam kontremporer. Buku yang ditulis dengan sangat runtut oleh Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama terdiri atas tiga periode-periode pertama, kedua, dan ketiga-, sedangkan bagian kedua berisikan tentang periode ke empat, yaitu bagian yang akan kita bicarakan lebih lanjut: Negara dan Penguatan Pilar-pilarnya.

2 in stock

Description

Judul Buku             : Manhaj Haraki Jilid 1

Penulis                    : Syaikh Munir Muhammad Ghadban

Penerbit                 : Robbani Press

Tebal Buku             : 653 halaman

Berat Buku             : 750 gram

Harga Buku            : Rp.130.000

Sejarah memang merupakan jejak yang dapat kita tangkap untuk rekam kejadian masa lalu di dunia ini. Sejarah terbaik pastinya ditorehkan oleh manusia terbaik sepanjang masa. Dan manusia itu tak lain adalah Muhammad Rasulullah saw., panutan seluruh umat Islam.

Sejarah juga merupakan rangkaian kehidupan umat manusia pada masa lampau yang memberikan pelajaran tak terperi pada bangsa-bangsa yang datang sesudahnya. Catatan sejarah luar biasa yang pernah ada, al-Qur’an dan hadits, banyak berkisah tentang umat-umat masa lalu dan merekam berbagai peristiwa penting dalam perjuangan Islam. Sejarah-sejarah indah itu pulalah yang menjadi tempat bagi kita untuk berkaca dan menata kembali bangunan iman, taqwa, dan semangat perjuangan yang seringkali berkelakuan seperti kurva sinus dan cosinus-menanjak, menurun, bertitik balik. Sebuah pengingat dan pemberi taujih hamasah tentu sangat diperlukan untuk memberi roh intelektual agar kurva itu menjadi terekstrapolasi dan senantiasa menanjak. Kajian tentang narasi kehidupan Nabi dan sistem-sistem perjuangan dalam membangun benteng pertahanan Islam yang kokoh menjadi sebuah jawaban untuk tantangan-tantangan diatas.

Maka buku ini hadir sebagai jawaban, memaparkan studi yang spesifik mengenai kajian tentang pergerakan dalam sirah nabawiyah, serta menyajikan fakta dan analisa yang tajam yang mempertautkan berbagai peristiwa di masa Nabi dengan kejadian mutakhir yang dihadapi oleh Harakah Islam kontremporer. Buku yang ditulis dengan sangat runtut oleh Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama terdiri atas tiga periode-periode pertama, kedua, dan ketiga-, sedangkan bagian kedua berisikan tentang periode ke empat, yaitu bagian yang akan kita bicarakan lebih lanjut: Negara dan Penguatan Pilar-pilarnya.

Dalam pendahuluan bukunya, syaikh Munir al-Ghadban menjelaskan pengertian Manhaj haroki ini ialah langkah-langkah terprogram (manhajiah) yang ditempuh Nabi saw. Dalam gerakan dakwahnya, semenjak kenabiannya sampai berpulang kepada Allah. Jika kita ingin agar harus melancak tahapan-tahapan pergerakan Rasulullah saw. Langkah demi langkah serta mengikuti  langkah-langkah tersebut. Firman Allah :

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah saw. Itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangannya) hari kiamat (QS. Al Ahzab :21)

Tidak meragukan lagi bahwa mengikiti langkah-langkah dan tahapan-tahapan dakwah ini adalah masalah ta’abbudi. Jika kita mengikutinya, maka kita akan sampai ke mardhatillah.

Kami meyakini bahwa Manhaj Haroki ini merupakan Taujih Robbani (arahan illahi). Allah saja yang menentukan Nabinya dalam seluruh langkah-langkahnya. Ia bukan sekedar “reaksi” spontan terhadap situasi yang menghadangnya.

Selanjutnya, dapatlah kami sebutkan beberapa periode manhaj tersebit secara terpisah tanpa menyebutkan rincian kasus-kasus dalam siroh nabawiyyah, kecuali hal-hal yang diperlukan.

Periode-periode manhaj ini ditentukan dalam lima periode yang kami istilahkan dengan :

Periode pertama :Sirriyatu ad-Da’wah dan Sirriyatu at-Tanzhim (Berdakwah secara sembunyi-sembunyi dan merahasiakan struktur organisasi). Dimulai dari Bi’tsah Nabawiyah (pengangkatan sebagai nabi) sampai dengan turunnya firman Allah, “Wa andzir ‘asyiratakal Aqrabin” (Asy-Syu’ara’ [42] : 214) dan firman Allah “Fashda’ bimaa tu’mar wa a‘ridh ‘anil musyirikin” (Al Hijr [15] : 94)

Periode kedua:  Jahriyatu ad-Da’wah dan Sirriyatu at-Tanzhim (Berdakwah secara terang-terangan dan merahasiakan struktur organisasi). Berakhir pada tahun 10 kenabian.

Periode ketiga: Iqamatu ad-Daulah (Mendirikan Negara). Pembentukan Daulah di Madinah,  dan berakhir pada awal tahun pertama Hijrah.

Periode keempat: ad-Daulah wa Tatsbiti Da’a’imiha (Negara dan penguatan pilar-pilarnya). Berakhir dengan Shulhul Hudaibiyah.

Periode kelima    : Intisyaru ad-Da’wah fi al-Ardhi (Kemenangan dakwah di bumi). Perjuangan politik dan kemenangan risalah. Berakhir dengan wafatnya Rasulullah saw.

Dalam jilid 1 terbitan Robbani Press ini ada empat periode yang dibahas oleh penulis secara tuntas. Sementara periode kelima-nya di terbitkan terpisah di jilid yang ke-2.

Sejarah bukan hanya cerita tentang serpihan peristiwa masa lalu, namun juga memberikan pelajaran berharga pada bangsa-bangsa yang datang sesudahnya. Bila al-Qur’an banyak berkisah tentang umat-umat masa lalu, dan hadits pun banyak merekam beragam peristiwa penting dalam perjuangan Islam, maka apalagi alasan bagi kita untuk tidak memberikan porsi kajian yang besar pada sirah, lebih-lebih sirah nabawiyah.

Karena itu, K.H. Rahmat Abdullah, yang memberi pengantar pada buku ini, melontarkan kritiknya terhadap kerangka keilmuan yang dibentuk oleh para ulama dahulu, yaitu akidah, fiqih, dan akhlak. Ketiga kajian ini diakuinya memang cukup mampu membentuk pribadi Muslim yang sadar akan kewajibannya terhadap Allah dan masyarakat. Namun menurutnya ada yang terputus.

Ketiga kajian ini jelas kekurangan satu hal pokok, yaitu “mata rantai yang akan menghubungkan mereka dengan Rasulullah, bahkan dengan Nabi-Nabi sebelum-nya.” Ini disebabkan tiadanya kajian sirah ataupun sejarah Islam yang berdasar-kan wa’yu (kesadaran ilmiah). Padahal sekali seseorang berbicara sirah, maka ia pasti merupakan bagian integral dan ummatan wahidah . Ia akan mewarisi spirit masa lampau umat Islam yang sangat kaya dan menumbuhkan militansi. Karena itu, putusnya mereka dengan sirah membuat lemahnya girah dan ruhul jihad.

Di sinilah peran penting yang dimainkan buku sebesar Manhaj Haraki ini. Sejarah yang ditulis da’i mujahid ini menampilkan sosok yang jauh berbeda dengan para penulis “ilmiah” pada umumnya. Penghayatan terhadap ruhul jihad dalam kehidupan Rasulullah merupakan modal utamanya. Hal ini karena mereka berada pada satu alur yang sama dengan Rasulullah, yaitu harakah dan dakwah. Maka penggambaran yang mereka sajikan bukan lagi masalah kronologis belaka, tetapi sudah masuk pada isi pembahasan yang mengasyikkan dan sangat bermanfaat bagi dakwah dan pergerakan.

Buku-buku sejarah memang telah banyak ditulis orang. Namun kitab Manhaj Haraki dalam Sirah Nabi Saw. ini tetap harus disambut dengan antusiasme yang besar, karena karya Munir Muhammad al-Ghadban ini menjadi pengecualian dari buku-buku itu. Bukan hanya karena studinya yang lebih spesifik, yaitu kajian tentang pergerakan dan perjuangan politik dalam sirah nabawiyyah, namun Munir al-Ghadban juga menyajikan fakta dan data, yang dirangkai dengan studinya yang ekstensif, analisa yang tajam dan mengagumkan dengan daya kritis yang tinggi.

Tokoh pergerakan kelahiran Syria yang juga dosen di Universitas Ummul Qura Saudi Arabia dan di Jami‘ah al-Iman Yaman ini memperlihatkan kepiawaiannya yang luar biasa sekali dalam mempertautkan berbagai peristiwa di masa Nabi dengan kejadian mutakhir yang dihadapi oleh Harakah Islam kontemporer. Marhalah (periode) demi marhalah pergerakan Nabi dikupas dengan sangat memikat sekali, seraya dibedah watak dan karakteristiknya, lalu diproyeksikan dan direkonstruksi kembali ke dalam iklim pergerakan Islam modern.

Ketika banyak pergerakan Islam kontemporer layu sebelum berkembang, tumbang dan berguguran, buku ini insya Allah memberikan suntikan energi yang dahsyat sekali. Buku ini harus menjadi bacaan ‘wajib’ bagi pada aktivis da‘wah dan Harakah Islam, serta para peminat sejarah Islam. Juga menjadi bacaan yang bermutu bagi kaum muslimin pada umumnya. Karena kitab ini nyaris sempurna dalam mengupas dan merunut manhaj haraki atau langkah-langkah terprogram yang ditempuh Nabi saw. dalam gerakan dakwahnya, sejak kenabiannya sampai berpulang kepada Allah.

Dalam periode pertama dakwahnya, Rasulullah memberikan rambu-rambu yang jelas tentang pentingnya merahasiakan dakwah, sekaligus merahasiakan struktur organisasinya. Periode ini dimulai dari gua Hira’ dan berakhir tiga tahun setelah kenabian. Beberapa karakteristik penting dalam fase ini adalah, bagaimana berdakwah melalui intelektualitas da’I dan status sosialnya. Terdapat 60 sahabat dari beragam kabilah Quraisy telah menyatakan bai’atnya kepada Rasulullah. Karena dakwah masih bersifat personal dan umum, maka kaum Quraisy tidak memberikan perhatian khusus terhadap dakwah, bahkan kaum Quraisy lebih memfokuskan perhatiannya pada golongan “hanif” daripada kaum muslimin. Fokus dakwah dititik beratkan pada pembinaan aqidah, dan setelah terbentuk kader inti-kader inti yang kuat, barulah dakwah dilaksanakan secara terang-terangan.

Pada periode kedua, Rasulullah menjahriyahkan dakwahnya, namun tetap merahasiakan struktur organisasinya. Periode jahriyah ini dilakukan dengan 2 tahapan, yaitu jahriyah Rasulullah saw, kemudian jahriyah kaum muslimin. Adapun jarak kedua tahapan ini sedikit sekali, hanya 2 tahun. Periode ini dimulai sejak turunnya perintah Allah, “maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik” (QS.15:94) dan firman Allah “dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat” (QS. 26:214), dan berakhir ketika Rasululullah saw. keluar Mekah untuk mendirikan Negara Islam. Dengan demikian periode ini berlangsung selama 7 tahun.

Beberapa karakteristik penting dalam fase kedua adalah, Rasulullah memulai dakwah secara terang-terangan kepada keluarga terdekat. Tantangan, hambatan, dan siksaan menerpa kaum muslimin pada fase ini. Sementara kaum muslimin diperintahkan untuk sabar menanggung siksaan dan penindasan di jalan Allah, dan hanya membela diri bila dalam keadaan darurat. Adapun bagi mereka yang lemah, diperbolehkan menampakkan “kemurtadan”nya. Fokus dakwah pada periode ini menekankan kepada aspek spiritual, dan memobilisasi dakwahnya dengan pertemuan rutin dan kontinyu. Periode ini berakhir setelah tahun duka cita.

Periode ketiga adalah periode tentang mendirikan Negara. Banyak karakteristik penting pada fase dakwah ini yang menitik beratkan pada strategi politik dakwah Rasulullah. Serangkaian perundingan dan baiat mewarnai fase ini. Izin perang (QS.al-Hajj [22]:39-41) juga keluar di periode ini, yakni izin berperang karena mereka teraniaya. Di Fase ini pula pengumuman pertama untuk syiar-syiar ibadah, serta dibangunnya masjid pertama di Quba’. Dimulai ketika perjalanan berdarah ke Thaif hingga hijrahnya Rasululullah ke Madinah, yang menandakan berakhirnya fase ini sekaligus periode Makkiyah dalam dakwah Rasulullah saw.

Periode keempat, atau periode terakhir yang dibahas dalam buku ini, sekaligus menjadi periode paling panjang dibahas. Deklarasi Negara Islam, konfrontasi fisik dalam perang, serta strategi jenius seorang pimpinan, menghiasi karakteristik periode ini. Berakhir pada perang Khandaq, periode ini merupakan periode penguatan pilar-pilar Negara yang telah dibangun pada periode sebelumnya.

Berakhirnya periode keempat (sekaligus juga akhir dari jilid 1 buku ini) menjadi akhir dari periode pengokohan kedalam. Tahap bertahan telah usai dan tahap menyerang dimulai, tahap penyebaran Islam di muka bumi serta pengokohan eksistensi agama.

Telah banyak buku yang menyajikan rekam jejak Rasulullah yang sering kita ketahui dengan judul Sirah Nabawiyah. Buku-buku sirah nabawiyah pastinya mengungkap peristiwa demi peristiwa dalam kehidupan pada jaman Rasul yang kesemuanya sarat akan hikmah dan wajib diketahui oleh seluruh muslim.

Namun, tidak semua orang dapat menikmati buku-buku yang kental akan nilai sejarah. Kecenderungan mindset yang dimiliki oleh pembaca yakni bahwa membaca dan mempelajari sejarah adalah hal yang kurang menarik.

Buku Manhaj Haraki hadir sebagai solusi mempelajari sirah Rasulullah dengan bahasan yang menarik dan mudah dicerna. Pembaca akan dibawa pada suasana seolah turut menjadi pelaku yang menyaksikan sejarah setiap peristiwa pada masa Rasulullah. Melalui kepiawaian Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban, narasi yang diangkat mampu memvisualisasikan peristiwa yang diceritakan.

Meski fokus sejarah yang diangkat oleh penulis adalah tentang pergerakan dan perpolitikan Rasul, namun penulis berhasil mengemasnya dalam bahasan yang sederhana tanpa menghilangkan esensi sesungguhnya.

Akhir kata, buku ini tidak hanya memberikan arahan terhadap langkah-langkah yang harus di tempuh oleh harakah Islam, namun lebih jauh buku ini juga memberikan teropong baru untuk melihat khasanah Sirah Nabawiyah yang kental dengan semangat jihad. Inilah “nyawa” yang menjadikan buku ini hidup, bukan sekadar “memuaskan dahaga intelektual” semata.

Additional information

Weight 750 g
Dimensions 15 × 23 cm

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Manhaj Haraki 1”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like…