Al Quran yang mulia mencela dengan keras patung dan yang memuja serta menyembahnya, karena pembuatan patung menjurus kepada kesyirikan. Dan tidak ada dosa yang lebih besar melebihi dosa syirik. Sebagaimana celaan khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam kepada ayahnya, “Apakah kamu akan menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu pahat ini!”.

Berkaitan dengan masalah patung dan gambar maka para ulamapun memasukan lukisan dalam pembahasan ini, dikarenakan banyaknya hadits yang melarang hal itu. Bahkan derajat hadits tersebut hampir mencapai mutawatir dan tingkat pelarangannya sampai pada pengharaman (menurut pendapat yang rajih) diantara hadits tersebut adalah:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَاباً يَوْمَ القِيَامَةِ يُضَاهِؤُونَ بِخَلْقِ اللهِ – رواه البخاري ومسلم

1. Orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah orang yang meniru ciptaan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah ra.)

إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِ يُقَالُ لَهُم : احْيُوْا مَا خَلَقْتُمْ – رواه البخاري ومسلم وأصحاب السنن

2. “Sesungguhnya para pembuat gambar-gambar ini akan disiksa pada hari kiamat. Kepada mereka akan dikatakan, ‘Hidupkanlah apa yang kamu ciptakan itu!’” (HR. Bukhari, Muslim dan Ashhabus sunan)

3. Dari Abu Zur’ah ia berkata, “Aku masuk bersama Abu Hurairah ke rumah Marwan bin Hakam, di rumah itu Abu Hurairah melihat gambar-gambar sedang dibangun. Kemudian ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ بِخَلْقٍ يَخْلُقُ فَلْيَخْلُقُوْا ذَرَّةً أَوْ فَلْيَخْلُقُوْا حَبَّةً أو فَلْيَخْلُقُوْا شَعِيْرَةً – رواه البخاري ومسلم وأحمد

“Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Jaya berfirman, ‘Siapakah orang yang lebih zhalim dari orang yang membuat sesuatu yang menyerupai ciptaan-Ku. Cobalah mereka menciptakan sebiji dzarrah atau sebiji benih atau sebiji gandum.’” (HR. Bukhari, Muslim dan Imam Ahmad)

4. Dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang laki-laki berkata kepadanya, “Saya melukis semua lukisan ini, berilah fatwa mengenai pekerjaan saya ini!”. Ibnu ‘Abbas berkata kepadanya, “Mendekatlah kepadaku!” Orang itu mendekat, tetapi Ibnu Abbas berkata lagi, “Dekatlah lagi kepadaku!” Orang itu lebih mendekat lagi sampai Ibnu Abbas dapat meletakkan tangannya di atas kepala orang itu dan berkata, “Aku akan memberi tahu apa yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku telah mendengar beliau bersabda,

كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ يُجْعَلُ لَهُ كُلَّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسٌ فَيُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ

“Setiap pelukis akan masuk neraka, dan setiap lukisan yang ia lukiskan akan diberi nyawa, lalu lukisan itu akan menyiksanya di neraka jahannam.”

Kemudian Ibnu ‘Abbas berkata, “Kalau kamu terpaksa harus melukis, maka lukislah pohon atau benda lain yang tidak bernyawa!” (HR. Bukhari, Muslim dan An Nasa’i)

5. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku telah mendengar beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَوَّرَ صُوْرَةً فَإِنَّ اللهَ يُعَذِّبُهُ حَتَّي يُنْفِخَ فِيْهَا الرُّوْحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيْهَا أَبَداً

“Barang siapa melukis suatu lukisan, maka Allah akan menyiksanya (di hari kiamat) hingga ia meniupkan ruh kedalam lukisan itu padahal ia tidak akan bisa sama sekali meniupkan ruh dalam lukisan itu.” Lalu Ibnu Abbas berkata sebagaimana di atas.

6. Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwasanya ia membeli sebuah bantal yang terhias dengan gambar-gambar. Setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, Beliau berdiri di muka pintu dan tidak mau masuk. Aisyah berkata, “Aku mengetahui dari raut mukanya bahwa ada sesuatu yang tidak beliau sukai.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya, apa dosaku?” Beliau bersabda, “Apakah bantal ini?” Aku menjawab, “Aku membelinya untukmu agar kau pakai sebagai alas dudukmu dan galang kepala.” Beliau bersabda, “Pembuat gambar-gambar ini akan disiksa pada hari kiamat dan dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa yang kamu ciptakan!’” Beliau lalu bersabda,

إِنَّ البَيْتَ الَّذِي فِيْهِ الصُّوَرُ لاَتَدْخُلُهُ المــــَلاَئِكَةُ – رواه البخاري ومسلم وأصحاب السنن

“Sesungguhnya rumah yang didalamnya ada gambar dan lukisan tidak akan dimasuki malaikat.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ashhabussunan)

7. Dari Abul Hayyay Al Asadi ia berkata, “Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku, ‘Sukakah kamu aku utus seperti tugas Rasulullah yang telah mengutusku? Yaitu janganlah membiarkan satu lukisan melainkan kamu musnahkan dan janganlah membiarkan suatu makam yang menonjol melainkan hendaklah kamu ratakan!’” (HR. Muslim)

8. Dari ‘Aisyah beliau berkata, “Ketika Nabi sedang pergi ke medan perang, aku membeli sehelai kain bercorak dan kupasang pada pintu sebagai tabir. Setelah Nabi kembali dan melihat kain itu, aku melihat dari raut mukanya ada sesuatu yang tidak beliau sukai. Beliau menarik kain tersebut hingga merobeknya. Beliau bersabda, “Allah tidak memerintahkan kita menyelubungi batu dan pasir!” Lalu aku potong kain itu dan menjadikannya dua helai kain bantal. Beliau tidak mencela aku atas apa yang aku lakukan itu.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ashhabussunan)

9. Aisyah berkata, “Ketika Nabi Muhammad menderita sakit, salah seorang isterinya bercerita tentang sebuah gereja yang diberi nama gereja maria. Ummu Habibah dan Ummu Salamah sudah pernah hijrah ke Habasyah (Ethiopia) mereka menceritakan keindahan gereja itu dan lukisan yang ada di dalamnya. Mendengar itu, Rasulullah mengangkat kepalanya dan bersabda, “Mereka itu, apabila salah seorang yang shalih meninggal dunia mereka membangun tempat peribadatan di atas makamnya, lalu dalam tempat peribadatan itu mereka lukis gambar-gambar itu, mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk Allah.” (HR. Bukhari, Muslim dan An Nasa’i)

Dan masih banyak hadits-hadits yang serupa.

Para Imam Madzhab bersepakat akan keharaman pembuatan patung dan lukisan. Motif dari pengharaman tersebut adalah adanya peniruan dan penjiplakan ciptaan Allah sebagaimana yang ditunjukan hadits nomor 1, 2, dan 3 di atas. Disamping hal itu, dalam pengharaman lukisan juga terdapat hikmah yang terkandung yaitu menjauhkan diri dari perlambangan watsaniyyah (penyembah berhala), serta mengantisipasi akibat dari syirik dan menyembah patung.

Berdasarkan hadits-hadits tersebut di atas, kita bisa mengetahui jenis lukisan dan patung yang diharamkan, yaitu:

1) Patung tiruan orang, hewan dan makhluk bernyawa lainnya, jenis patung ini haram secara ijma’ berdasarkan hadits:

إِنَّ المــَلاَئِكَةَ لاَتَدْخُلُ بَيْتاً فِيْهِ كَلْبٌ وَلاَصُوْرَةٌ ولاَتَمَاثِيْلُ وَلاَجُنُبٌ

“Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing, lukisan, patung atau orang yang junub.” Juga berdasarkan hadits-hadits tersebut di atas.

2) Gambar yang dilukis dengan tangan yang merupakan tiruan makhluk yang bernyawa. Hukumnya haram dengan ittifaq (kesepakatan) para ulama berdasarkan hadits nomor 2, 4, 5, 6 dan 9 di atas.

3) Lukisan dalam bentuk yang utuh sehingga yang diperlukan hanyalah meniup ruh ke dalam lukisan tersebut, hukumnya juga haram dengan ittifaq para ulama berdasarkan hadits nomor 4 di atas.

4) Gambar yang menonjol sehingga menimbulkan rasa hormat dan digantungkan di tempat yang mudah dilihat orang yang masuk, hukumnya juga haram.

Lalu apa lukisan dan patung yang diperbolehkan?

  1. Lukisan atau patung yang bukan dalam bentuk orang atau benda bernyawa seperti pohon, batu dan lainnya. Sebagaimana hadits Ibnu ‘Abbas di atas.
  2. Semua lukisan yang menggambarkan tubuh tapi tidak utuh seperti tangan saja, kepala saja, dan lainnya sebagaimana diterangkan hadits ‘Aisyah nomor 8 di atas.
  3. Para ulama memperbolehkan boneka, karena boneka itu tidak tetap (cepat rusak) dan agar anak-anak perempuan terbiasa berlatih mengasuh anak dikemudian hari. Berdasarkan peristiwa yang dialami oleh ‘Aisyah ra. bahwasanya ia dipinang oleh Nabi pada umur tujuh tahun dan dinikahkan pada usia sembilan tahun sedangkan pada masa itu ia masih senang bermain boneka. Ketika Rasulullah wafat, ‘Aisyah berusia 18 tahun (HR. Bukhari). ‘Aisyah berkata, “Aku sering main boneka didepan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku mempunyai teman-teman yang bermain denganku. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk, mereka berlarian keluar karena malu kepada beliau. Beliau lalu mengirim mereka kembali untuk bermain lagi denganku.” (HR. Muslim).

Sebagian ulama ada juga yang memperbolehkan lukisan dengan syarat ia bukan lukisan 3 dimensi yang memiliki bayangan (patung). Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari berikut keterangan mengenai aqwal (pendapat) dalam hal ini:

1) Ulama yang memperbolehkan secara mutlak, berdasarkan hadits:

إِلاَ مَا كَانَ رَقْماً فِي ثَوْبٍ

“Kecuali corak atau motif pada kain/baju.”

2) Terlarang secara mutlak sebagaimana hukum secara umum.

3) Kalau lukisan itu bergambar makhluk bernyawa dalam bentuk yang utuh maka hukumnya haram. Akan tetapi kalau lukisan tersebut berupa angota tubuh yang terpisah, maka hukumnya boleh. Inilah pendapat yang rajih dan yang kita pegang berdasarkan hadits-hadits di atas.

4) Kalau bergambar pada sesuatu yang tidak berharga hukumnya boleh. Bila tidak demikian maka terlarang.

Lalu apa hukum fotografi?

Para ulama mutaakhirin berpendapat bahwa foto tidak termasuk haram dengan alasan bahwa foto tersebut adalah hasil refleksi suatu benda yang sebagai akibatnya terwujud (dalam film potret benda tersebut). Proses tersebut sama halnya dengan gambar yang terlihat di cermin (lensa yang ada pada kamera itu merefleksi cahaya benda yang dipotret kedalam kamera dan cahaya tersebut jatuh pada sebuah film dan terwujudlah gambar benda yang dipotret pada film itu, setelah mengalami proses berkali-kali maka menghasilkan potret tersebut).

Namun demikian, dalam menyikapi pembahasan foto tersebut Syaikh Muhammad ‘Ali Ash Shabuni dalam kitabnya Rawaai’ul Bayaan Tafsiir Aayatil Ahkaam minal Qur’an memberi batasan bahwa pengambilan foto hanya sebatas kebutuhan saja. Karena unsur kemashlahatan yang terdapat dalam foto akan membawa efek negatif dalam bentuk dekadensi moral dan akhlak.

Wallahu a’lam bish shawab.

Referensi:

  1. Rawaai’ul Bayaan Tafsiir Aayatil Ahkaam minal Qur’an II/663
  2. Fathul Baari X/467.

Toko Buku | Toko Buku Online | Beli Buku Online | Buku Online | Jual Buku Online | Toko Buku Online Murah | Beli Buku | Jual Buku |Toko Buku Online Terpercaya | Toko Buku Online Terlengkap | Jual Beli Buku Online | Buku Online Murah | Belanja Buku Online | Jual Beli Buku | Jual Buku Online Murah | Baca Buku Online | Situs Buku Online | Cari Buku Online | Beli Buku Online Terlengkap | Harga Buku | Buku Islam | Toko Buku Islam | Toko Kitab | Situs Jual Beli Online Termurah | Toko Buku Islam Terpercaya | Jual Buku Islam | Toko Buku Islam Online | Buku Fiqih | Toko Buku di Sukabumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *